Article Detail

Implementasi Herbarium dan Taksidermi

Selasa, 13 Agustus 2024, SMA Tarakanita Magelang mengadakan workshop dalam acara pembelajaran P5 Rekaya Teknologi dengan tema “Workshop Pengawetan Hewan dan Tumbuhan” bersama narasumber Ibu Ruswita Prawida Lestari, S.Pd. yang dihadiri oleh seluruh peserta didik kelas XII dan bapak-ibu guru pendamping. Workshop tersebut dimulai dengan pertanyaan pemantik sebagai interaksi di awal, seperti “satu kata yang terlintas tentang teknik pengawetan dan hewan”, “apakah kamu pernah melakukan pengawetan tumbuhan atau hewan?”, dan “apa manfaat dari pengawetan?”. Setelah itu dilanjutkan dengan penyampaian manfaat dari pengawetan hewan dan tumbuhan dan korelasinya dengan SDGS (Sustainable Development Goals). Dengan melihat tujuan utama dari SDGS yaitu pembangunan berkelanjutan melalui gerakan mempelopori kesejahteraan hidup sekaligus merawat lingkungan sekitar secara berkesinambungan. Sejalan dengan tujuan tersebut terlebih pada poin ke 15 “life on land” (ekosistem daratan). Memiliki tujuan melindungi, merestorasi, dan meningkatkan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem daratan. Selain itu, dapat mengelola hutan secara lestari, menghentikan dan memulihkan degradasi lahan, serta menghentikan kepunahan keanekearagaman hayati. Melalui kegiatan teknik pengawetan hewan dan tumbuhan ini dapat ikut serta dalam mengimplementasikan nilai dari SDGS itu sendiri.

Selanjutnya narasumber yang biasa disapa dengan Ibu Ruswita menjelaskan macam-macam pengawetan hewan dan tumbuhan di antaranya herbarium dan taksidermi. Herbarium merupakan istilah yang lebih dikenal untuk pengawetan tumbuhan. Material yang sudah diawetkan disebut dengan istilah spesimen herbarium.  Sedangkan taksidermi merupakan merupakan istilah pengawetan untuk hewan pada umumnya dan biasanya dilakukan terhadap hewan yang berukuran relatif besar dan hewan yang dapat dikuliti termasuk beberapa jenis reptil, burung, dan mamalia. Organ dalam dikeluarkan dan kemudian dibentuk kembali seperti bentuk asli ketika hewan tersebut hidup (dikuliti, hanya bagian kulit yang tersisa). Dengan kata lain taksidermi merupakan pengetahuan tentang skinning (pengulitan), preserving (pengawetan kulit), stuffing (pembentukan), dan mounting/opzet/pajangan (penyimpanan sesuai kondisi waktu hidup).

Kemudian narasumber juga menjelaskan cara pengawetan bisa dibedakan menjadi dua di antaranya, herbarium kering yang cara pengawetannya dengan dikeringkan, dan herbarium basah cara pengawetan dengan disimpan dalam larutan pengawet seperti alkohol 70%, formalin 4 %, atau FAA (larutan yang terdiri dari formalin, alkohol, asam asetat glasial, dengan formula tertentu). Sebagai tambahan informasi bahwa dari bahan tumbuhan yang sering dijadikan herbarium basah ialah bahan-bahan yang mempunyai sifat-sifat, ukurannya tidak terlalu besar dan merupakan bahan tumbuhan yang berasal dari jenis-jenis tumbuhan yang hidup di air atau mempunyai kadar air yang tinggi, seperti misalnya ganggang dan jamur. Narasumber membagikan cara pembuatan awetan kering dan basah beserta dengan alat dan bahan yang digunakan.

Setelah peserta didik mengetahui cara pembuatan awetan tumbuhan dan hewan secara kering dan basah, Ibu Ruswita sebagai narasumber mengajak untuk melalukan simulasi teknik pengawetan hewan dan tumbuhan dengan menggunakan tumbuhan Pakis (Athyrium filix-femina) dari proses pengeringan sampai pelabelan nama spesies. Tidak hanya tumbuhan, Ibu Ruswita juga sudah menyiapkan sampel hewan untuk diawetan yang terdiri dari capung, kupu-kupu, dan belalang yang dimatikan dengan cara memberikan larutan klorofom. Selain awetan kering pada simulasi tersebut juga dijelaskan pembuatan awetan basah dengan menggunakan tumbuhan Hydrilla yang dimasukkan ke dalam larutan FAA yang sudah disiapkan dengan formula tertentu.

Di akhir sesi, narasumber mengajak peserta didik untuk merefleksikan kegiatan yang sudah berlangsung dengan memberikan pertanyaan “Hal menarik apa yang kamu dapat?”, dengan melihat respon siswa, hampir semua siswa mengatakan bahwa teknik pengawetan hewan dan tumbuhan itu sangat menarik, ada juga yang mengatakan bahwa ini pengalaman pertama mereka mengetahui pengawetan hewan dan tumbuhan. Narasumber berharap teknik pengawetan hewan dan tumbuhan ini bisa benar-benar di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai perwujudan nilai dari Leading in Science di SMA Tarakanita Magelang. (Penulis : Ruswita Prawida Lestari)

Comments
  • there are no comments yet
Leave a comment